Apakah karena ingat kekasih yang berada di Dzisalam, kau cucurkan air mata bercampur darah?
Atau karena angin yang bertiup dari arah Kadhimah? Ataukah karena teringat cahaya kilat dalam gelap malam lembah Idlom?
Kalau tidak, mengapa air mata di kedua matamu tetap mengalir yang mestinya kau mampu menahannya? dan kenapa hatimu tetap gundah padahal kau mampu menentramkannya?
Adakah orang yang sedang kasmaran menyangka bisa merahasiakan rasa cinta? Sedang air matanya masih bercucuran dan hati yang masih terbakar api cinta.
Kalau tiada rasa cinta, tentulah kau tak akan mencucurkan air mata saat teringat puing-puing rumah kekasih dan tidak akan terjaga sepanjang malam saat teringat pepohonan dan gunung-gunung di tempat kekasih.
Kenapa kau masih ingkar akan cintamu? Padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan adalah menjadi saksi atas cintamu.
Rasa susah menetapkan dua garis yang terletak di kedua pipimu yang kuning pucat karena sakit dan mata merahmu yang selalu menangis mencucurkan air mata (itu adalah bukti cintamu).
Iya... orang yang aku rindukan tiap malam, bayangannya nampak di depan mataku yang membuatku tak bisa tidur. Memang sakitnya cinta itu menghalangi kenikmatan.
Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku. Seandainya kau bersikap adil, takkan kau cela aku.
Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku, padahal tidak juga kunjung sembuh penyakitku.
Begitu tulus nasihatmu, tapi tak kudengar semuanya, karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.
Aku kira ubanku pun turut mencelaku, padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.
Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan, sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.
Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu.
Jika ku tahu ku tak menghormati uban yang bertamu, kan ku sembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.
Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan? Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.
Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat, sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu, bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.
Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa, jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela.
Gembalakan ia! Ia bagai ternak dalam amal budi. Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.
Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan, tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.
Takutlah akan tipu daya dalam lapar dan kenyang, seringkali rasa lapar lebih buruk daripada kekenyangan.
Cucurkanlah air matamu karena melihat segala yang haram, peliharalah selalu rasa penyesalan yang mendalam.
Lawanlah hawa nafsu dan setan! Durhakailah! Bila mereka tulus menasehatimu, curigailah...!
Jangan kau taati mereka sebagai musuh atau kawan, karena kau tahu bagaimana tipu daya musuh dan kawan.
Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat, kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.
Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan. Tidak lurus diriku, maka tak guna kusuruh kau lurus.
Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah, tiada aku shalat dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.
Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.
Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu, dan dengan batu mengganjal perutnya yang halus itu.
Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya, ia tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.
Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya, kendati butuh pada harta, tidaklah merusak kesuciannya.
Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia, padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.
Muhammadlah pemipin dunia akhirat, pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.
Nabilah penganjur kebaikan dan pencegah mungkar, tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.
Dialah kekasih, dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.
Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus, mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.
Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa, tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.
Para Nabi semua meminta dari dirinya seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para rasul sama berdiri di puncak, mereka mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya, terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia... (to be continue)
*Terjemah Qashiidatul Burdah karya Syaikh Muhammad Al- Bushiri.
Menurut KH. Husein Muhammad (Buya Husein), “Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) acap kali menyenandungkan puisi Bushairi ini. Beliau sudah menghapalnya sejak di Pesantren. Beliau mengungkapkan cinta kepada Nabi Muhammad ini sebagian saja dari 160 bait Burdah Al- Bushairi”.
Sementara, qashidah ini sering saya senandungkan dan pernah saya bawakan bersama tim hadroh. Karena ini memang lagu favorit saya. Tapi saya membawakannya versi Syauqi. Subhaanallaah.. ternyata makna di balik qashidah ini begitu dalam. Shollu ‘alannabii Muhammad!
