Minggu, 20 April 2014

Reaksi Bangsa Indonesia Terhadap Kedatangan Bangsa Barat

Sedikit perlawanan terhadap Belanda terjadi di Mataram, ketika itu pada tahun 1618 M. Sultan Agung dapat menguasai Jawa Timur. Dan di masa pemerintahannya kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dengan Belanda mulai terjadi. Di lain pihak, di Banten pada masa Abdul Fath (wafat 1651 M), terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dan Belanda yang berakhir dengan disetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M. Pada saat itu terjadi empat perlawanan terbesar dan terlama, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Perang Paderi di Minangkabau
Gerakan Paderi yang terbentuk dengan kedatangan tiga Haji terkenal dari Makkah pada awal abad ke 19, dipengaruhi secara mendalam oleh sukses gerakan Wahabi di Arab pada masa itu. Setelah takluknya Minangkabau akibat perang Paderi kebijakan Belanda mencoba menahan pengaruh para guru agama dengan mengasingkan mereka sejauh mungkin.
Namun tak lama kemudian terjadi peperangan antara kaum adat dan Belanda. Peperangan pertama Belanda gagal, sehingga Belanda mengajak perdamaian melalui perjanjian pada 22 Januari 1824. Namun Belanda mengkhianatinya. Begitu pula peperangan selanjutnya Belanda juga gagal dan mengadakan perjanjian damai 15 September 1825, namun Belanda mengkhianati lagi. Sesampai pada perjanjian damai yang dikenal dengan plakat panjang, 23 Oktober 1833, kaum Paderi menolak dan tidak percaya lagi. Dan pada 16 Agustus 1837 Belanda menyerang Bonjol dan akhirnya Bonjol dapat diduduki dan tokoh Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, lalu Ambon dan sampai meninggal di Manado.
2. Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Peristiwa yang memicu peperangan Diponegoro adalah rencana Belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik Pangeran Diponegoro dan harus membongkar makam. Pada tahun 1825 Pangeran Diponegoro bangkit dan berontak melawan Belanda menggunakan taktik gerilya, dimana pasukan Belanda dikepung oleh prajurit Pangeran Diponegoro di Yogya.
Pada tahun 1826 banyak korban berguguran di pihak Belanda dan pihak Belanda memperkuat diri dengan membangun benteng untuk mempersempit gerak tentara Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1827 Pangeran Diponegoro ditawan karena beliau membangkang untuk berunding dengan Belanda dan akhirnya tahun 1830 dibuang ke Manado, lalu tahun 1834 pindah ke Ujung Pandang, Makasar dan meninggal dalam usia 70 tahun pada 8 Januari 1855.
3. Perang Banjarmasin
Perang Banjarmasin yang dipimpin oleh Pangeran Antasari dilatarbelakangi oleh campur tangan Belanda dalam menentukan siapa yang akan menjadi Raja Muda pengganti Sultan Adam Alwasik Billah yang sudah tua. Jabatan itu diserahkan pada putranya bernama Abdurrahman tetapi dia tidak berumur panjang. Karena itu ia memilih cucunya Pangeran Hidayat. Tetapi Belanda tidak menyetujui pemilihan Sultan itu dan lebih berpihak kepada Pangeran Tamjid, cucu Sultan yang dari seorang selir.
Pengangkatan Pangeran Tamjid menjadi Sultan menimbulkan kekecewaan dikalangkan rakyat. Akibatnya timbul kericuhan di wilayah kerajaan Banjarmasin. Dari kerajaan itu Belanda kembali memasuki persoalan politik untuk mengambil keuntungan yang lebih besar. Ketika itulah perang Banjarmasin dimulai, Andresen yang didatangkan dari Batavia menyimpulkan, bahwa Sultan Tamjid sumber kericuhan. Dan akhirnya diturunkan dari tahta dan kekuasaannya diambil alih oleh Belanda
Pengambilalihan kekuasaan itu mengalihkan penentangan rakyat yang semula ditujukan untuk Sultan Tamjid menjadi kepada Belanda. Perlawanan ini dipimpin Pangeran Antasari dengan 3000 pasukan untuk menyerbu pos-pos Belanda. Awalnya pasukan Belanda banyak yang tewas, tetapi dengan taktik dan kelicikannya Belanda berhasil mengalahkan satu demi satu beberapa pembesar kerajaan.
4. Perang Aceh
Pada tanggal 5 April 1873 tentara Belanda menyerang Masjid dengan 3000 personil, karena kuatnya tentara Aceh dapat direbut kembali oleh pasukan Aceh. Dan bulan November 1873 Belanda dengan 13.000 personil mampu menguasai masjid keraton. Setelah meninggal dunianya Sultan (1874) Belanda berunding, tetapi tidak di tangggapi oleh Aceh, sehingga Belanda memakai strategi menunggu. Namun terus mendapat serangan-serangan dari Aceh yang mengakibatkan sistem itu gagal. Setelah sistem tersebut gagal, Belanda menerapkan sistem konsentrasi, kota raja sebagai pusatnya, akan tetapi sistem ini justru memberi peluang kepada pejuang Aceh untuk menggagalkan perang gerilya. Yang akhirnya banyak tentara Belanda yang terbunuh.
Tahun 1890 M, Gubernur Dey Kerhof mengajak Teuku Umar untuk berpihak kepada Belanda, akhirnya mau dan berhasil menundukkan Mukim XXII, XXV, XXVI. Aceh besar kembali bergejolak, ketika Teuku Umar membelot dari Belnda pada tahun 1896 dan Belanda mekukan ofensif yang memaksa pihak Aceh melakukan defensif. Teuku Umar gugur dalam perang ini dan digantikan Cut Nya’ Dien. Akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia (1942 M), karena mencoba dengan taktik menculik putra-putra Sultan, yang akhirnya Sultan dan Panglima Polim menyerah. Namun perang terus berlanjut terhadap Belanda walaupun perorangan maupun kelompok. Dari tahun 1903 – 1930 sering terjadi perlawanan sengit yang dipimpin Ulama’ di Pidie Aceh Tengah dan Tenggara, Aceh Barat dan Timur.
Sumber: http://multazam-einstein.blogspot.com/kedatangan-bangsa-barat-ke-nusantara.html
KOMENTAR:
A. Nilai Edukatif: Dengan datangnya Bangsa Barat ke Indonesia, terdapat beberapa hal positif yang dapat kita ambil. Di antaranya adalah sebagai berikut:
- Kemajuan di bidang IPTEK
· Di bidang teknologi: Dahulu rakyat Indonesia tidak mengenal persenjataan atau peralatan/alat transportasi perang seperti pistol, meriam, teng, dan sebagainya. Mereka hanya berperang dengan menggunakan peralatan alakadarnya seperti golok, celurit, dan bambu runcing. Dengan datangnya bangsa Barat ke Indonesia, rakyat Indonesia kini telah mengenal dan menggunakan peralatan dan persenjataan perang tersebut. Selain itu, bangsa Indonesia pun jadi mengenal adanya alat komunikasi seperti pesawat telepon.
· Di bidang pendidikan: Bangsa Indonesia bisa membaca dan menulis berkat pendidikan yang diberikan oleh bangsa Barat ketika itu, meskipun tidak semua kalangan bisa mengenyam pendidikan. Hanya golongan ningrat atau orang-orang kaya saja yang boleh bersekolah pada saat itu. Selain itu, adanya penelitian yang dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles dari Inggris dengan diterbitkannya buku The History of Java. Dia juga berhasil menemukan bunga bangkai raksasa, yaitu bunga Rafflesia Arnoldi.
· Di bidang pembangunan: Dibuatnya jalan beraspal dari Anyer sampai Panarukan oleh Deandels.
B. Nilai inspiratif: Dengan datangnya Bangsa Barat ke Indonesia, telah mampu menginspirasi banyak hal positif bagi bangsa Indonesia untuk bisa menjadi negara yang lebih maju dari segi IPTEK dan pembangunan.

0 komentar:

Posting Komentar