a.
Arti dan Makna Kebangkitan dan Pergerakan Nasional
Perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang penjajah Belanda sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum abad XX. Karena itu masih perlu dijelaskan kriteria apa yang harus dipakai untuk melihat suatu gerakan itu bersifat nasional. Haruskah gerakan itu dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia (Hindia Belanda) atau kualitas gerakan yang bagaimana yang dapat disebut sebagai gerakan nasional itu?
Jika dilihat dari kacamata sekarang tentu gerakan nasional itu adalah gerakan yang kita lakukan sebagai bangsa Indonesia yang serentak, terencana dan memiliki tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya sehingga memiliki suatu arah dan kepastian dalam keinginan yang dituju.
Pergerakan nasional adalah pergerakan bangsa itu, walaupun yang bergerak itu sebagian rakyat atau sebagian kecil sekalipun asalkan apa yang menjadi tujuan itu dapat menentukan nasib bangsa itu secara keseluruhan, menuju tujuan yang tertentu yaitu kemerdekaan.
Dalam gerakan ini kesetiaan diletakkan pada bangsa itu sendiri. Pergerakan nasional pada umumnya merupakan pergerakan dari bangsa yang terjajah melawan bangsa yang menjajah untuk mendirikan suatu negara yang merdeka. Tujuan pergerakan nasional yang seutuhnya tidak mungkin akan terwujud sejauh kemerdekaan dalam bidang politik belum dapat dicapai.
Pergerakan nasional dalam sejarah Indonesia merupakan salah satu momentum yang penting. Memang setiap momentum, dalam sejarah, memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya. Setiap momentum mengandung nilai-nilai tertentu, yang jika kita hubungkan dengan sejarah sebagai alat pendidikan tentu mengandung makna.
Pergerakan Indonesia meliputi berbagai gerakan atau aksi yang dilakukan dalam bentuk organisasi secara modern menuju ke arah yang lebih baik terutama dalam kehidupan rakyat Indonesia. Oleh karena itu dalam perkembangannya gerakan yang terjadi tidak hanya bersifat radikal akan tetapi juga ada yang bersifat moderat.
Namun demikian bagi suatu organisasi taktik perjuangan dapat berbeda asalkan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu koperasi ataupun non koperasi bukan suatu tujuan melainkan semata-mata sebuah taktik perjuangan. Di samping istilah pergerakan nasional kita juga mengenal istilah perjuangan nasional.
Akan tetapi kata perjuangan sebenarnya memiliki cakupan waktu yang lebih luas (lama) karena perjuangan bangsa itu sebenarnya sejak bangsa itu ada sampai mencapai tujuannya, sedang pergerakan nasional hanyalah meliputi kurun waktu 1908-1945.
Dilihat dari strategi perjuangan, rupanya perang (perang fisik) banyak berbicara. Oleh karena itu kita perlu mengenang keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajahan itu. Mereka bersemboyan ''Merdeka atau Mati''. Hanya saja suatu hal yang kurang mendapat perhatian adalah koordinasi dalam perjuangan belum dilaksanakan, komunikasi belum terkoordinir.
Jika masalah ini ternyata sarana untuk mengkomunikasikan taktik dan strategi dalam menghadapi Belanda belum terjadi pada periode sejarah Indonesia sebelum abad XX. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya ''Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia'', pada halaman 1 menyebut dengan istilah organisasi ''modern''.
Contoh organisasi yang pertama memiliki ciri-ciri modern ini adalah Budi Utomo, yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada tahun 1908. Berdirinya organisasi yang mempunyai ciri dan watak berbeda dengan apa yang ada dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum abad XX oleh bangsa Indonesia diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Peringatan lahirnya Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316, tertanggal 16 Desember 1959. Jadi peringatan Kebangkitan Nasional bertepatan dengan peringatan lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908, tentu ada hal yang spesifik.
Yang kita maksud spesifik menurut A.K. Pringgodigdo adalah sebagai berikut:
1. Memiliki pengurus yang pasti;
2. Memiliki anggota yang terdaftar;
3. Memiliki tujuan;
4. Memiliki rancangan pekerjaan yang dalam hal ini program kerja;
5. Lain-lain didasarkan atas peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa disamping syarat-syarat yang dikemukakan oleh A.K. Pringgodigdo di atas, tentu tekanan kita adalah bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah untuk kepentingan nasional (kemerdekaan bangsa). Pembahasan tentang makna pergerakan nasional, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa makna itu apa.
Kalau kita berbicara tentang makna pergerakan nasional, tentu tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan pergerakan nasional dalam sejarah perjuangan nasional. Hal ini karena perjuangan nasional memiliki makna yang luas. Sehubungan dengan hal itu, kita melihat sampai sejauh mana pergerakan nasional itu menimbulkan dampak terhadap perjuangan selanjutnya.
b. Perkembangan Pendidikan di Indonesia
Kemakmuran dan kemajuan negeri Belanda diperoleh dari kerja dan jasa orang koloni Indonesia. Karena itu Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan ''Tri Logi van Deventer'' yang di dalamnya terdiri dari emigrasi, irigasi, dan edukasi.
Dalam bidang pendidikan (edukasi), tujuan semula Belanda adalah untuk mendapat tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut, Belanda mendirikan sekolah-sekolahan untuk rakyat pribumi.
Munculnya sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan politik etis. Dari sinilah mulai adanya perhatian terhadap perkembangan pendidikan mengingat salah satu dari Trilogi van Deventer secara eksplisit menyebutkan mengenai edukasi. Jika dilihat dari aspek sejarahnya, sebenarnya sistem pendidikan sudah ada sejak zaman VOC.
Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan sekolah Betawi (Batavische School). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Jakarta juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran (Academie der Marine).
Dengan adanya perbedaan perlakuan sebagai akibat dari sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat kolonial khususnya terhadap golongan Timur Asing, maka pada tahun 1737 didirikan sekolah khusus untuk orang Tionghoa.
Untuk kelompok bumiputra masih diwarnai oleh status keturunan yang terdiri dari kelompok bangsawan kaum priyayi dan rakyat jelata. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka struktur pendidikan terdiri dari pendidikan dasar yang di dalamnya ada ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool) untuk keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan Sekolah Kelas Dua.
Dalam pendidikan tingkat menengah ada HBS (Hogere Burger School) MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah kejuruan seperti Kweek School, Normaal School.
Untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut voor Hoger Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechschool), dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari SekolahDokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geneeskundige Hogeschool).
Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumiputra (Inlandsch Geneeskundige). Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra.
Sekolah ini di beri nama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang kemudian pada tahun 1913 diubah menjadi NIAS (Nederlandsch Indische Artsenschool). Jika kita kaitkan dengan lahirnya pergerakan nasional, peranan para lulusan sekolah kedokteran ini memiliki posisi yang sangat signifikan.
Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.
Sumber: http://tragedisosialsejarah.blogspot.com/2014/02/hakekat-pergerakan-nasional.html
Komentar:
1.
Nilai Inspiratif
·
Kita perlu mengenang keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajahan. Mereka bersemboyan ''Merdeka atau Mati''.
·
Peranan para lulusan sekolah kedokteran STOVIA/NIAS memiliki posisi yang sangat signifikan. Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.
·
Dengan adanya peristiwa tersebut di atas, mampu merefleksi kembali makna Kebangkitan Nasional, sehingga hakekat semangat Kebangkitan Nasional tetap tertancap kuat dalam hati sanubari setiap individu masyarakat negeri ini.
·
Kebangkitan Nasional yang dipelopori oleh Boedi Oetomo sejatinya mengajak segenap elemen bangsa untuk kembali menengok ke dalam diri sendiri, menggali potensi, menguak kedigdayaan yang dimiliki oleh bangsa ini untuk terlepas dari segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan serta penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh para penjajah.
·
Timbulnya semangat Nasionalisme. Rasa memiliki sebuah bangsa menjadi landasan utama bagi perjuangan segenap masyarakat negeri ini. Semangat nasionalisme ini menemukan pijakannya yang sangat kuat sejak dilangsungkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ketika itu, komponen muda sebagai garda depan penggagas semangat nasionalisme ini mengukuhkan satu tekad bulat tanpa membedakan ragam suku, budaya maupun bahasa. Semua terangkum dalam satu kesatuan, yakni tekad menegakkan sebuah bangsa bernama Indonesia. Kenyataan inilah yang memompa semangat nasionalisme serta menggugah kesadaran setiap individu masyarakat negeri ini untuk berjuang bersama melawan penjajah. Kekompakan dan semangat kebersamaan ini pada gilirannya mengantarkan bangsa ini pada sebuah nikmat yang tiada tara, yakni kemerdekaan.
2.
Nilai Edukatif
Dengan munculnya organisasi Budi Utomo, berdirilah sekolah-sekolah seperti berikut:
·
Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan sekolah Betawi (Batavische School). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Jakarta juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran (Academie der Marine).
·
Dengan adanya perbedaan perlakuan sebagai akibat dari sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat kolonial khususnya terhadap golongan Timur Asing, maka pada tahun 1737 didirikan sekolah khusus untuk orang Tionghoa.
·
Untuk kelompok bumiputra masih diwarnai oleh status keturunan yang terdiri dari kelompok bangsawan kaum priyayi dan rakyat jelata. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka struktur pendidikan terdiri dari pendidikan dasar yang di dalamnya ada ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool) untuk keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan Sekolah Kelas Dua.
·
Dalam pendidikan tingkat menengah ada HBS (Hogere Burger School) MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah kejuruan seperti Kweek School, Normaal School.
·
Untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut voor Hoger Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechschool), dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari SekolahDokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geneeskundige Hogeschool).
·
Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumiputra (Inlandsch Geneeskundige). Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra.
Dengan adanya sekolah-sekolah tersebut di atas (dengan lahirnya pergerakan nasional), peranan para lulusan sekolah kedokteran ini memiliki posisi yang sangat signifikan. Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.