Kamis, 28 Agustus 2014

T T M

Sebelumnya saya ingin menyapa sahabat bloggers terlebih dahulu. Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh. Salam semangat! Salam sejahtera! dan salam dahsyat untuk kita semua!!! Semoga kita masih diberikan umur panjang dan kesehatan oleh Allah SWT untuk senantiasa menjalankan rutinitas kita sebagai seorang hamba, dan aktivitas kita sebagai seorang khalifah di muka bumi ini.

Pada kesempatan kali ini saya menulis tentang TTM. Teman Tapi Modus. Eh, salah. Maksudnya Teman Tapi Mesra. Hehehe.. Tapi menurut saya sih sama aja tuh, hampir gak ada bedanya. Kalau menurut sahabat sekalian gimana? Ada yang tidak sependapat dengan saya? Or.. pada setuju semua? Hehe..
Well,, kita di sini bukan ingin membahas setuju atau tidaknya, tapi kita akan membahas tentang hakikat sebuah TTM yang sesungguhnya.

Banyak orang yang melakukan TTM dengan dalih “Kalau memang mutualistis (saling menguntungkan), kenapa tidak dilanjutkan? Lantas bagaimana dengan nasib pasangannya masing-masing? Nah lo?? Mau mendua? Masya Allah.. kalau sampai itu terjadi, Bang Roma pasti langsung bilang, “TERLALU!” (sambil geleng-geleng kepala).

Ok, ini dia type-type TTM:
1. Teman ngobrol. Kalimat paling kunci: “Nggak kok kami nggak pacaran, kami cuma temen ngobrol.” Padahal mereka sering jalan, cuma nggak ada yang berani nembak duluan.
2. Teman kencan. Tidak pacaran, tidak memiliki ikatan hubungan, tapi keduanya masih bisa berkencan dengan orang lain, tapi sering ketemu lalu melakukan hubungan diam-diam.
3. Seeing its other. Ini taraf penjajakan. Jalan bersama tapi masih berkencan juga dengan masing-masing pasangan.
4. TTM, HTS (Hubungan Tanpa Status)  atau friend with benefits, no string attach. Ini yang kita sebut selalu sebagai hubungan Teman Tapi Mesra.
5. Lovers. Tidak terikat satu sama lain, tapi mereka sama-sama memiliki perasaan yang dalam. Mereka tidak saling mengikat diri, umumnya karena salah satu atau keduanya sudah menikah. Tapi tetap melakukan hubungan.
6. Significant fraters. Ini lebih platonis. Tidak melakukan hubungan sex, tidak seperti kekasih, tapi kalau salah satunya  pacaran dengan yang lain, yang satunya cemburu.
7. Mantan tapi mesra. Memilih memutuskan hubungan lebih karena perbedaan keyakinan atau orang tua tidak setuju. Tau-tau LDR, tapi sekalinya ketemu, mereka kembali bermesraan.

Ada yg tidak pernah melakukan salah satu di antaranya?
Ada?
Ada??
Ada???
Saya curiga semua pernah melakukannya. #Gak usah muna!!! Hahaha

Tetapi terlepas dari pro-kontra soal TTM, ada satu yang menarik, bahwa ada TTM yang tujuannya untuk mencari kesejahteraan. Inilah TTM kedelapan yang sebenarnya sangat indah. Di mana kita bisa menjalin pertemanan dan kemesraan yang tiada henti dengan Sang Maha Cinta. Seperti tergambar dalam do’a seorang sufi perempuan, Rabi’ah al-Adawiyah. Do’anya begini:

“Wahai Tuhanku… di langit bintang-gemintang makin redup
Berjuta pasang mata telah terlelap dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya
Begitu pula para pencinta, telah menyendiri bersama kekasihnya
Tapi aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu
Yaa Ilahi.. malam telah berlalu dan siang menjelang datang
Aduhai seandainya malam tidak pernah berakhir
Alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu berteman dan bermesra-mesraan hanya dengan-Mu
Ilahi.. demi kemuliaan-Mu, walaupun Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu,
Aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu
Yaa Tuhan.. jika aku menyembah-Mu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamya
Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka campakkanlah aku dari surga
Tapi jika aku menyembah-Mu semata karena cintaku hanya kepada Engkau,
Maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi”

Bermesraan dengan-Nya, Dia yang dekat jika kita dekat,
Galau akan hilang, damai pun akan datang.



#Kang_Maman_ILK

Selasa, 22 April 2014

Munajat Senja

Tiada tempat yang paling indah selain Masjid
Tiada hal yang paling menyenangkan selain duduk di Majlis Ta’lim
Tiada hal yang paling berkesan selain diberi nasehat oleh Ustadz/Guru
Dan tiada canda yang paling seru selain bercengkrama bersama para santri/orang ‘alim
Damai sukma dan raga, sejuk qalbu tercipta, nuansa Ilahi bergema
Allahumma... nikmat dunia kurasa jika aku berada di antara para ‘Ulama atau orang-orang Shalih
Allahku... panjangkanah umur mereka, berkahilah hidup mereka, ampunilah dosa-dosa mereka, dan tetapkanlah aku agar bisa terus berkumpul bersama mereka, bukan hanya sekedar di dunia, tapi juga di akhirat
Andai aku tahu kapan aku akan menghadapMu, mungin tak akan aku sia-siakan masa mudaku untuk tetap terus beribadah kepadaMu
Andai aku tahu kapan malaikat Izro’il menghampiriku dan mencabut nyawaku, tak akan aku isiqomah dalam ketidakistiqomahan
Andai aku tahu kapan ajalku tiba, tak akan aku tersesat dan terjerumus dalam lembah kehinaan
Yaa Robbii.. Tutupilah semua aib dan keburukanku dengan kebaikan dan kemuliaan-Mu…
Yaa Rohmaan… Cintailah aku, angkatlah derajatku, jangan engkau hinakan aku di dunia dan di akhirat
Yaa Rasulallah.. laa tansanii... Kenalilah aku sebagai ummatmu pada hari akhir nanti…
Syafa’atilah aku yang senantiasa melantunkan shalawat kepadamu setiap waktu di sela2 aktivitasku

*yang merindukan halwahnya ibadah,
   SNJ

Minggu, 20 April 2014

Karakteristik Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Menghadapi VOC dan Pemerintah Kolonial Belanda Sebelum/Hingga Tahun 1900-an

1. Perjuangan Bangsa Indonesia bersifat kedaerahan (1602-1908)
Pada masa penjajahan VOC dan penjajahan Hindia Belanda sampai dengan 1908 perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mengusir penjajah masih bersifat kedaerahan, masing-masing daerah hampir tak ada koordinasi, disebabkan beberapa hal:
a. Tiap daerah merasa sebuah Negara yang berdiri sendiri.
b. Upaya politik Devide et Impera (pecah belah dan menguasai) penjajahan kolonial.
c. Pada daerah-daerah itu sendiri banyak masalah intern pemerintahan yang memungkinkan terjadinya kemelut dalam negeri (perebutan kekuasaan dan sebagainya).
Pada saat itu dikenal para pahlawan bangsa Indonesia dalam berbagai perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah VOC dan Hindia Belanda:
1.     1635 – Iskandar Muda (Aceh)
2.     1645 – Sultan Agung (Mataram Jogjakarta)
3.     1650 – Sultan Ageng Tirtayasa dan Ki Tapa (Banten)
4.     1660 – Hasanudin (Makasar)
5.     1670 – Untung Surapati dan Trunojoyo (Jawa Timur)
6.     1680 – Ibnu Iskandar (Minangkabau)
7.     1817 – Pattimura (Maluku)
8.     1817 – Badarudin (Palembang)
9.     1822 - Imam Bonjol (Minangkabau) – 1837
10.   1825 – Diponegoro (Mataram Jogjakarta) – 1830
11.   1850 – Jelantik (Bali)
12.   1860 – Pangeran Antasari (Kalimantan)
13.   1873 – Teuku Umar, Teuku Cik Ditirodan dan Cut Nyak Din (Aceh)
14.   1895 – Anak Agung Made (Lombok)
15.   1900 – Sisingamangaraja XII (Batak)

2. Perjuangan bersifat Nasional (1908 – Merdeka)
a. Pada tanggal 20 Mei 1908 didirikan Budi Utomo yang selain bergerak di bidang pendidikan, merupakan cara baru dalam perjuangan bangsa Indonesia di bidang pergerakan politik. Pemuda-pemuda angkatan 1908 adalah antara lain: Pelajar Stovia (Sekolah dokter pribumi), Sutomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo dan lain-lain dalam bimbingan Dr.Wahidin Sudirohusodo.
b. Dengan lahirnya Budi Utomo diikuti berdirinya organisasi pergerakan kebangsaan yang lain yaitu: Serikat Dagang Islam (SDI), Serikat Islam (SI), Indische Partij, Serikat Sunda, Kaum Betawi, Serikat Sumatra, Serikat Minahasa dan lain-lain, sehingga pada tanggal 20 Mei 1908 kemudian ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional atau kebangkitan kebangsaan Indonesia.
c. Selain serikat-serikat yang didirikan para orang tua juga berdiri organsasi kepemudaan yang masih bersifat kedaerahan yang menjadi embrio perjuangan bersifat nasional yaitu: Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Bataks Bon, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rumpun Sunda, Pemuda Kaum Betawi dan lain-lain, sebuah organisasi kepemudaan Indonesia yang berada di negeri Belanda yaitu Perhimpunan Indonesia (1922), Perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) di Jakarta (1926) dan Pemuda Indonesia berpusat di Bandung (1927).
d. Pada tanggal 28 Oktober 1928 terselenggara konggres Sumpah Pemuda dengan pengurus terdiri dari: Sugondo Joyopuspito, Joko Mursaid, Mochammad Yamin, Senduk, J. Leimena, Rochyani dan lain-lain di Jl.Kramat Raya no.106 Jakarta, yang berisi pengakuan: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa ialah Indonesia. Pada penutupan konggres WR.Supratman dengan iringan biolanya mempersembahkan lagu Indonesia raya.
e. Selanjutnya pergerakan perjuangan bangsa Indonesia dalam memerdekakan dirinya terus meningkat berkembang dengan berbagai pemikiran yang mempengaruhi baik perkembangan di dalam negeri maupun perkembangan politik di luar negeri hingga jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda kepada Jepang. Pada zaman Jepang pergerakan bangsa Indonesia sudah lebih mantap secara nasional hingga terbentuk badan persiapan dalam menyongsong kemerdekaan yang bersifat nasional.

3. Perjuangan fisik dan non fisik
Pengalaman bangsa Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan sungguh sangat dalam. Semula perjuangan melawan penjajah, baik itu pada zaman VOC Maupun Hindia Belanda selalu lebih dititikberatkan pada perjuangan secara fisik, mengumpulkan orang, dipersenjatai, dilatih bela diri, lalu menyerang.
Pada saat berjuang melawan penjajah Jepang dan perang kemerdekaan, perjuangan bersifat fisik demikian itu juga terus dilaksanakan bahkan dengan ilmu kemiliteran modern. Taktik dan strategi disusun terlebih dahulu secara matang sesuai dengan ilmunya, orang dibagi-bagi tugas yang jelas, ada pengatur perang dan ada tukang perang, perjuangan fisik demikian terus ditingkatan.
Di samping perjuangan secara fisik tersebut di atas, bangsa Indonesia juga bergerak secara non  fisik, antara lain secara politik, ekonomi dan lain sebagainya yang tidak bersifat pertempuran terbuka. Pemuda Indonesia yang ada pada saat itu menerima pendidikan Barat, banyak berkecimpung dalam perjuangan secara non fisik antara lain: Dr.Wahidin Sudirohusodo, melalui pendidikan, Ir.Soekarno dan Moch.Hatta melalui politik dan sebagainya. Perjuangan bersifat non fisik ini juga sering disebut perjuangan secara kooperatif (kerjasama), adapun secara fisik atau militer disebut juga perjuangan non kooperatif.

Sumber: http://ldiikediri.blogspot.com/2013/08/sifat-perjuangan-bangsa-indonesia.html

Reaksi Bangsa Indonesia Terhadap Kedatangan Bangsa Barat

Sedikit perlawanan terhadap Belanda terjadi di Mataram, ketika itu pada tahun 1618 M. Sultan Agung dapat menguasai Jawa Timur. Dan di masa pemerintahannya kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dengan Belanda mulai terjadi. Di lain pihak, di Banten pada masa Abdul Fath (wafat 1651 M), terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dan Belanda yang berakhir dengan disetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M. Pada saat itu terjadi empat perlawanan terbesar dan terlama, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Perang Paderi di Minangkabau
Gerakan Paderi yang terbentuk dengan kedatangan tiga Haji terkenal dari Makkah pada awal abad ke 19, dipengaruhi secara mendalam oleh sukses gerakan Wahabi di Arab pada masa itu. Setelah takluknya Minangkabau akibat perang Paderi kebijakan Belanda mencoba menahan pengaruh para guru agama dengan mengasingkan mereka sejauh mungkin.
Namun tak lama kemudian terjadi peperangan antara kaum adat dan Belanda. Peperangan pertama Belanda gagal, sehingga Belanda mengajak perdamaian melalui perjanjian pada 22 Januari 1824. Namun Belanda mengkhianatinya. Begitu pula peperangan selanjutnya Belanda juga gagal dan mengadakan perjanjian damai 15 September 1825, namun Belanda mengkhianati lagi. Sesampai pada perjanjian damai yang dikenal dengan plakat panjang, 23 Oktober 1833, kaum Paderi menolak dan tidak percaya lagi. Dan pada 16 Agustus 1837 Belanda menyerang Bonjol dan akhirnya Bonjol dapat diduduki dan tokoh Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, lalu Ambon dan sampai meninggal di Manado.
2. Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Peristiwa yang memicu peperangan Diponegoro adalah rencana Belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik Pangeran Diponegoro dan harus membongkar makam. Pada tahun 1825 Pangeran Diponegoro bangkit dan berontak melawan Belanda menggunakan taktik gerilya, dimana pasukan Belanda dikepung oleh prajurit Pangeran Diponegoro di Yogya.
Pada tahun 1826 banyak korban berguguran di pihak Belanda dan pihak Belanda memperkuat diri dengan membangun benteng untuk mempersempit gerak tentara Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1827 Pangeran Diponegoro ditawan karena beliau membangkang untuk berunding dengan Belanda dan akhirnya tahun 1830 dibuang ke Manado, lalu tahun 1834 pindah ke Ujung Pandang, Makasar dan meninggal dalam usia 70 tahun pada 8 Januari 1855.
3. Perang Banjarmasin
Perang Banjarmasin yang dipimpin oleh Pangeran Antasari dilatarbelakangi oleh campur tangan Belanda dalam menentukan siapa yang akan menjadi Raja Muda pengganti Sultan Adam Alwasik Billah yang sudah tua. Jabatan itu diserahkan pada putranya bernama Abdurrahman tetapi dia tidak berumur panjang. Karena itu ia memilih cucunya Pangeran Hidayat. Tetapi Belanda tidak menyetujui pemilihan Sultan itu dan lebih berpihak kepada Pangeran Tamjid, cucu Sultan yang dari seorang selir.
Pengangkatan Pangeran Tamjid menjadi Sultan menimbulkan kekecewaan dikalangkan rakyat. Akibatnya timbul kericuhan di wilayah kerajaan Banjarmasin. Dari kerajaan itu Belanda kembali memasuki persoalan politik untuk mengambil keuntungan yang lebih besar. Ketika itulah perang Banjarmasin dimulai, Andresen yang didatangkan dari Batavia menyimpulkan, bahwa Sultan Tamjid sumber kericuhan. Dan akhirnya diturunkan dari tahta dan kekuasaannya diambil alih oleh Belanda
Pengambilalihan kekuasaan itu mengalihkan penentangan rakyat yang semula ditujukan untuk Sultan Tamjid menjadi kepada Belanda. Perlawanan ini dipimpin Pangeran Antasari dengan 3000 pasukan untuk menyerbu pos-pos Belanda. Awalnya pasukan Belanda banyak yang tewas, tetapi dengan taktik dan kelicikannya Belanda berhasil mengalahkan satu demi satu beberapa pembesar kerajaan.
4. Perang Aceh
Pada tanggal 5 April 1873 tentara Belanda menyerang Masjid dengan 3000 personil, karena kuatnya tentara Aceh dapat direbut kembali oleh pasukan Aceh. Dan bulan November 1873 Belanda dengan 13.000 personil mampu menguasai masjid keraton. Setelah meninggal dunianya Sultan (1874) Belanda berunding, tetapi tidak di tangggapi oleh Aceh, sehingga Belanda memakai strategi menunggu. Namun terus mendapat serangan-serangan dari Aceh yang mengakibatkan sistem itu gagal. Setelah sistem tersebut gagal, Belanda menerapkan sistem konsentrasi, kota raja sebagai pusatnya, akan tetapi sistem ini justru memberi peluang kepada pejuang Aceh untuk menggagalkan perang gerilya. Yang akhirnya banyak tentara Belanda yang terbunuh.
Tahun 1890 M, Gubernur Dey Kerhof mengajak Teuku Umar untuk berpihak kepada Belanda, akhirnya mau dan berhasil menundukkan Mukim XXII, XXV, XXVI. Aceh besar kembali bergejolak, ketika Teuku Umar membelot dari Belnda pada tahun 1896 dan Belanda mekukan ofensif yang memaksa pihak Aceh melakukan defensif. Teuku Umar gugur dalam perang ini dan digantikan Cut Nya’ Dien. Akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia (1942 M), karena mencoba dengan taktik menculik putra-putra Sultan, yang akhirnya Sultan dan Panglima Polim menyerah. Namun perang terus berlanjut terhadap Belanda walaupun perorangan maupun kelompok. Dari tahun 1903 – 1930 sering terjadi perlawanan sengit yang dipimpin Ulama’ di Pidie Aceh Tengah dan Tenggara, Aceh Barat dan Timur.
Sumber: http://multazam-einstein.blogspot.com/kedatangan-bangsa-barat-ke-nusantara.html
KOMENTAR:
A. Nilai Edukatif: Dengan datangnya Bangsa Barat ke Indonesia, terdapat beberapa hal positif yang dapat kita ambil. Di antaranya adalah sebagai berikut:
- Kemajuan di bidang IPTEK
· Di bidang teknologi: Dahulu rakyat Indonesia tidak mengenal persenjataan atau peralatan/alat transportasi perang seperti pistol, meriam, teng, dan sebagainya. Mereka hanya berperang dengan menggunakan peralatan alakadarnya seperti golok, celurit, dan bambu runcing. Dengan datangnya bangsa Barat ke Indonesia, rakyat Indonesia kini telah mengenal dan menggunakan peralatan dan persenjataan perang tersebut. Selain itu, bangsa Indonesia pun jadi mengenal adanya alat komunikasi seperti pesawat telepon.
· Di bidang pendidikan: Bangsa Indonesia bisa membaca dan menulis berkat pendidikan yang diberikan oleh bangsa Barat ketika itu, meskipun tidak semua kalangan bisa mengenyam pendidikan. Hanya golongan ningrat atau orang-orang kaya saja yang boleh bersekolah pada saat itu. Selain itu, adanya penelitian yang dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles dari Inggris dengan diterbitkannya buku The History of Java. Dia juga berhasil menemukan bunga bangkai raksasa, yaitu bunga Rafflesia Arnoldi.
· Di bidang pembangunan: Dibuatnya jalan beraspal dari Anyer sampai Panarukan oleh Deandels.
B. Nilai inspiratif: Dengan datangnya Bangsa Barat ke Indonesia, telah mampu menginspirasi banyak hal positif bagi bangsa Indonesia untuk bisa menjadi negara yang lebih maju dari segi IPTEK dan pembangunan.

Hakikat Kebangkitan Nasional dan Pergerakan Nasional

a. Arti dan Makna Kebangkitan dan Pergerakan Nasional

Perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang penjajah Belanda sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum abad XX. Karena itu masih perlu dijelaskan kriteria apa yang harus dipakai untuk melihat suatu gerakan itu bersifat nasional. Haruskah gerakan itu dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia (Hindia Belanda) atau kualitas gerakan yang bagaimana yang dapat disebut sebagai gerakan nasional itu?
Jika dilihat dari kacamata sekarang tentu gerakan nasional itu adalah gerakan yang kita lakukan sebagai bangsa Indonesia yang serentak, terencana dan memiliki tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya sehingga memiliki suatu arah dan kepastian dalam keinginan yang dituju.
Pergerakan nasional adalah pergerakan bangsa itu, walaupun yang bergerak itu sebagian rakyat atau sebagian kecil sekalipun asalkan apa yang menjadi tujuan itu dapat menentukan nasib bangsa itu secara keseluruhan, menuju tujuan yang tertentu yaitu kemerdekaan.
Dalam gerakan ini kesetiaan diletakkan pada bangsa itu sendiri. Pergerakan nasional pada umumnya merupakan pergerakan dari bangsa yang terjajah melawan bangsa yang menjajah untuk mendirikan suatu negara yang merdeka. Tujuan pergerakan nasional yang seutuhnya tidak mungkin akan terwujud sejauh kemerdekaan dalam bidang politik belum dapat dicapai.
Pergerakan nasional dalam sejarah Indonesia merupakan salah satu momentum yang penting. Memang setiap momentum, dalam sejarah, memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya. Setiap momentum mengandung nilai-nilai tertentu, yang jika kita hubungkan dengan sejarah sebagai alat pendidikan tentu mengandung makna.
Pergerakan Indonesia meliputi berbagai gerakan atau aksi yang dilakukan dalam bentuk organisasi secara modern menuju ke arah yang lebih baik terutama dalam kehidupan rakyat Indonesia. Oleh karena itu dalam perkembangannya gerakan yang terjadi tidak hanya bersifat radikal akan tetapi juga ada yang bersifat moderat.
Namun demikian bagi suatu organisasi taktik perjuangan dapat berbeda asalkan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu koperasi ataupun non koperasi bukan suatu tujuan melainkan semata-mata sebuah taktik perjuangan. Di samping istilah pergerakan nasional kita juga mengenal istilah perjuangan nasional.
Akan tetapi kata perjuangan sebenarnya memiliki cakupan waktu yang lebih luas (lama) karena perjuangan bangsa itu sebenarnya sejak bangsa itu ada sampai mencapai tujuannya, sedang pergerakan nasional hanyalah meliputi kurun waktu 1908-1945.
Dilihat dari strategi perjuangan, rupanya perang (perang fisik) banyak berbicara. Oleh karena itu kita perlu mengenang keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajahan itu. Mereka bersemboyan ''Merdeka atau Mati''. Hanya saja suatu hal yang kurang mendapat perhatian adalah koordinasi dalam perjuangan belum dilaksanakan, komunikasi belum terkoordinir.
Jika masalah ini ternyata sarana untuk mengkomunikasikan taktik dan strategi dalam menghadapi Belanda belum terjadi pada periode sejarah Indonesia sebelum abad XX. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya ''Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia'', pada halaman 1 menyebut dengan istilah organisasi ''modern''.
Contoh organisasi yang pertama memiliki ciri-ciri modern ini adalah Budi Utomo, yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada tahun 1908. Berdirinya organisasi yang mempunyai ciri dan watak berbeda dengan apa yang ada dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum abad XX oleh bangsa Indonesia diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Peringatan lahirnya Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316, tertanggal 16 Desember 1959. Jadi peringatan Kebangkitan Nasional bertepatan dengan peringatan lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908, tentu ada hal yang spesifik.
Yang kita maksud spesifik menurut A.K. Pringgodigdo adalah sebagai berikut:
1. Memiliki pengurus yang pasti;
2. Memiliki anggota yang terdaftar;
3. Memiliki tujuan;
4. Memiliki rancangan pekerjaan yang dalam hal ini program kerja;
5. Lain-lain didasarkan atas peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa disamping syarat-syarat yang dikemukakan oleh A.K. Pringgodigdo di atas, tentu tekanan kita adalah bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah untuk kepentingan nasional (kemerdekaan bangsa). Pembahasan tentang makna pergerakan nasional, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa makna itu apa.
Kalau kita berbicara tentang makna pergerakan nasional, tentu tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan pergerakan nasional dalam sejarah perjuangan nasional. Hal ini karena perjuangan nasional memiliki makna yang luas. Sehubungan dengan hal itu, kita melihat sampai sejauh mana pergerakan nasional itu menimbulkan dampak terhadap perjuangan selanjutnya.

b. Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Kemakmuran dan kemajuan negeri Belanda diperoleh dari kerja dan jasa orang koloni Indonesia. Karena itu Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan ''Tri Logi van Deventer'' yang di dalamnya terdiri dari emigrasi, irigasi, dan edukasi.
Dalam bidang pendidikan (edukasi), tujuan semula Belanda adalah untuk mendapat tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut, Belanda mendirikan sekolah-sekolahan untuk rakyat pribumi.
Munculnya sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan politik etis. Dari sinilah mulai adanya perhatian terhadap perkembangan pendidikan mengingat salah satu dari Trilogi van Deventer secara eksplisit menyebutkan mengenai edukasi. Jika dilihat dari aspek sejarahnya, sebenarnya sistem pendidikan sudah ada sejak zaman VOC.
Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan sekolah Betawi (Batavische School). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Jakarta juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran (Academie der Marine).
Dengan adanya perbedaan perlakuan sebagai akibat dari sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat kolonial khususnya terhadap golongan Timur Asing, maka pada tahun 1737 didirikan sekolah khusus untuk orang Tionghoa.
Untuk kelompok bumiputra masih diwarnai oleh status keturunan yang terdiri dari kelompok bangsawan kaum priyayi dan rakyat jelata. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka struktur pendidikan terdiri dari pendidikan dasar yang di dalamnya ada ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool) untuk keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan Sekolah Kelas Dua.
Dalam pendidikan tingkat menengah ada HBS (Hogere Burger School) MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah kejuruan seperti Kweek School, Normaal School.
Untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut voor Hoger Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechschool), dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari SekolahDokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geneeskundige Hogeschool).
Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumiputra (Inlandsch Geneeskundige). Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra.
Sekolah ini di beri nama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang kemudian pada tahun 1913 diubah menjadi NIAS (Nederlandsch Indische Artsenschool). Jika kita kaitkan dengan lahirnya pergerakan nasional, peranan para lulusan sekolah kedokteran ini memiliki posisi yang sangat signifikan.
Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.

Sumber: http://tragedisosialsejarah.blogspot.com/2014/02/hakekat-pergerakan-nasional.html

Komentar:
1. Nilai Inspiratif
· Kita perlu mengenang keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajahan. Mereka bersemboyan ''Merdeka atau Mati''.
· Peranan para lulusan sekolah kedokteran STOVIA/NIAS memiliki posisi yang sangat signifikan. Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.
· Dengan adanya peristiwa tersebut di atas, mampu merefleksi kembali makna Kebangkitan Nasional, sehingga hakekat semangat Kebangkitan Nasional tetap tertancap kuat dalam hati sanubari setiap individu masyarakat negeri ini.
· Kebangkitan Nasional yang dipelopori oleh Boedi Oetomo sejatinya mengajak segenap elemen bangsa untuk kembali menengok ke dalam diri sendiri, menggali potensi, menguak kedigdayaan yang dimiliki oleh bangsa ini untuk terlepas dari segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan serta penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh para penjajah.
· Timbulnya semangat Nasionalisme. Rasa memiliki sebuah bangsa menjadi landasan utama bagi perjuangan segenap masyarakat negeri ini. Semangat nasionalisme ini menemukan pijakannya yang sangat kuat sejak dilangsungkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ketika itu, komponen muda sebagai garda depan penggagas semangat nasionalisme ini mengukuhkan satu tekad bulat tanpa membedakan ragam suku, budaya maupun bahasa. Semua terangkum dalam satu kesatuan, yakni tekad menegakkan sebuah bangsa bernama Indonesia. Kenyataan inilah yang memompa semangat nasionalisme serta menggugah kesadaran setiap individu masyarakat negeri ini untuk berjuang bersama melawan penjajah. Kekompakan dan semangat kebersamaan ini pada gilirannya mengantarkan bangsa ini pada sebuah nikmat yang tiada tara, yakni kemerdekaan.

2. Nilai Edukatif
Dengan munculnya organisasi Budi Utomo, berdirilah sekolah-sekolah seperti berikut:
· Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan sekolah Betawi (Batavische School). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Jakarta juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran (Academie der Marine).
· Dengan adanya perbedaan perlakuan sebagai akibat dari sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat kolonial khususnya terhadap golongan Timur Asing, maka pada tahun 1737 didirikan sekolah khusus untuk orang Tionghoa.
· Untuk kelompok bumiputra masih diwarnai oleh status keturunan yang terdiri dari kelompok bangsawan kaum priyayi dan rakyat jelata. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka struktur pendidikan terdiri dari pendidikan dasar yang di dalamnya ada ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool) untuk keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan Sekolah Kelas Dua.
· Dalam pendidikan tingkat menengah ada HBS (Hogere Burger School) MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah kejuruan seperti Kweek School, Normaal School.
· Untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut voor Hoger Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechschool), dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari SekolahDokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geneeskundige Hogeschool).
· Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumiputra (Inlandsch Geneeskundige). Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra.
Dengan adanya sekolah-sekolah tersebut di atas (dengan lahirnya pergerakan nasional), peranan para lulusan sekolah kedokteran ini memiliki posisi yang sangat signifikan. Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.

Karakteristik Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Menghadapi Penjajah Setelah Tahun 1900-an

Penderitaan di Bawah Penjajahan
Selama berabad-abad mendatangkan penderitaan bangsa Indonesia bangsa penjajah memperlakukan rakyat Indonesia semena-mena tidak lagi ada kemerdekaan, kebebasan, dan kedaulatan hanya ada pemaksaan, penindasan, eksploitasi tenaga manusia, eksploitasi kekayaan tanah air yang keuntungannya untuk kepentingan bangsa penjajah. Portugis pertama kali datang ke Indonesia memonopoli perdagangan di Indonesia selalu memaksakan keinginannya dengan jalan kekerasan mereka menaklukan kerajaan-kerajaan yang tak mau tunduk.
Bergantinya penjajahan dari Portugis ke Belanda hasilnya semakin buruk jauh lebih buruk dan lebih lama dan penjajahan yang dilakukan oleh VOC menerapakan beberapa kebijakan yang sangat merugikan, antara lain:
1.      Sistem monopoli perdagangan (menguasai seluruh perdagangan)
2.      Kerja rodi (kerja paksa tanpa upah)
3.      Pungutan pajak yang sangat memberatkan rakyat
4.      Wajib tanam kopi untuk perdagangan VOC
5.      Pelayaran Hongi (mendayung perahu kora-kora di perairan maluku)
6.       Ekstripasi (penebangan tanaman yang melanggar aturan monopoli )
7.      Tanam paksa (menanam tanaman keperluan ekspor VOC ke Eropa)
Rakyat sangat menderita karena harus kerja rodi menyerahkan semua hasil tanamn dan itu berlangsung lama rakyat akhirnya kelaparan dan akhirnya meninggal dunia. Penyerahan pajak ke VOC harus dalam bentuk barang yaitu hasil pertanian mereka bukan dalam bentuk uang seperti sistem pajak tanah. Vandenbosch berpendapat bahwa sistem ini dapat menaikan tanaman dagangan yang dikirim ke Belanda, menguntungkan rakyat tidak lagi harus membayar pajak tanah. Ketentuan tanam paksa sebagai berikut:
a.    Menyediakan sebagian dari tanahnya untuk menanam tanaman yang dapat dijual di pasaran eropa.
b.    Bagian dari tanah pertanian untuk tujuan ini tidak boleh melebihi sperlima dari tanah pertanian.
c.    Waktu pengerjaan tanaman wajib tidak boleh melebihi waktu penanaman padi.
d.   Bagian dari tanah untuk menanam tanamamn wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
e.    Tanaman wajib diserahkan kepada pemerintah hindia belanda jika ditaksir melebihi pajak tanah yang harus dibayar maka selisih akan dikembalikan.
f.     Panen yang gagal akan dibebankan pada pemerintah.
g.    Pengerjaan tanah di bawah pengawasan kepala pemerintah.
Dalam prakteknya ketentuan-ketentuan tersebut diselewengkan oleh para pegawai pemerintah Hindia Belanda dan para pemimpin pribumi yang mencari keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri tanam paksa sangat menyengsarakan rakyat.
Perjuangan Setelah Kebangkitan Nasional
Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari lahirnya organisasi social pertama di Indonesia, yaitu Budi Oetomo. Didirikan oleh para mahasiswa STOVIA di Jakarta. Diprakarsai oleh gerakan dr. Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo yang sebelumnya memulai kampanye untuk meningkatakan martabat rakyat dengan cara membentuk dana pelajar. Ketuanya dipilih Sutomo.
Budi Oetomo tidak pernah mendapat dukungan massa sehingga kedudukannya di politik kurang penting. Namun Budi Oetomo dipandang sebagai induk Kebangkitan Nasional karena Budi Oetomo pelopor berdirinya organisasi nasional dan menggunakan strategi perjuangan yang baru serta berbeda dengan perjuangan sebelumnya.
Ciri-ciri perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908:
1. Perjuangan dilakujan dengan menggunakan organisasi, bukan menggunakan kekerasan
2. Para pemimpin berasal dari kaum intelektual, bukan raja atau sultan
3. Rasa persatuan dan kebangsaan sudah mulai tumbuh
4. Perjuangan tidak bersifat kedaerahan lagi (perjuangan bersifat nasional)
5. Srategi perjuangan diplomasi
6. Perjuangan dengan organisasi modern.
Menurut Ismaun (1986:42), tumbuhnya kesadaran kebangsaan bangsa Indonesia di percepat oleh faktor:
a.    Perlawanan bangsa Filipina terhadap Spanyol pada tahun 1989
b.    Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1885
c.    Kegiatan Partai Kongres di India melawan Inggris tahun 1885
d.   Bangkitnya Kemal Pasha di Turki pada tahun 1881
e.    Keberhasilan dr. Sun Yat Sen dalam mendirikan Republik Cina pada tahun 1911
f.     Pecahnya Perang Dunia I
g.    Didirikannya Volksraad (DPR) oleh Belanda tahun 1911
Sejak Budi Oetomo berdiri pada tahun 1908, di Indonesia kemudian berdiri beberapa organisasi yang bercorak budaya, politik, maupun keagamaan.
1.    Sarekat Islam
2.    Indische Partij
3.    Gerakan Pemuda
4.    Partai Nasional Indonesia
5.    Fraksi Nasional
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan
Ketika Belanda menyerah kepada jepang pada tanggal 8 Maret 1942, maka berakhirlah masa pemerintahan kolonial Belanda dan dimulainya pemerintahan Jepang. Kedatangan Jepang di Indonesia disambut baik oleh rakyat Indonesia karena berharap dapat melepaskan diri dari penderitaan yang berkepanjangan.
Faktor yang mendorong rakyat Indonesia mau bekerjasama dengan Jepang antara lain karena Jepang yang kuat diharapkan dapat membantu Indonesia yang lemah, selain itu sikap keras pemerintah koloniah Belanda menjelang akhir masa kekuasaanya yang tidak memberikan harapan kemerdekaan kepada para pejuang pergerakan nasional.
Keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka memuncak pada tahun 1945. Akan tetapi terjadi perbedaan pendapat antara golongan muda dengan golongan tua. Golongan tua menginginkan kemerdekaan yang tanpa pertumpahan darah dan tetap bekerjasama dengan Jepang. Sementara golongan muda menginginkan kemerdekaan yang tanpa campur tangan dari Jepang.
Akhirnya setelah mendengar berita penyarahan Jepang kepada sekutu, golongan muda langsung mendesak Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Akan tetapi , Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta malah menginginkan masalah itu dibicarakan dulu dalam rapat PPKI. Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, teks proklamasi  kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan disaksikan oleh para tokoh pejuang Indonesia. Dengan dibacakanya teks proklamasi itu, maka bangsa Indonesia resmi menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, dan lepas dari belenggu penjajahan.


Kedatangan Bangsa-Bangsa Barat di Indonesia

Masuknya Bangsa Barat ke Indonesia

Pada permulaan abad Pertengahan, orang-orang Eropa sudah mengenal hasil bumi dari dunia Timur, terutama rempah-rempah dari Indonesia. Dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453) mengakibatkan hubungan perdagangan antara Eropa dan Asia Barat (Timur Tengah) terputus.
Hal ini mendorong orang-orang Eropa mencari jalan sendiri ke dunia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah yang sangat mereka butuhkan. Melalui penjelajahan samudra, akhirnya bangsa-bangsa Barat berhasil mencapai Indonesia. Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia pada mulanya lewat kongsi-kongsi perdagangan. Kongsi-kongsi perdagangan tersebut berusaha untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia melalui praktik monopoli. Faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa Barat pergi ke dunia Timur, antara lain sebagai berikut:
1. Dikuasainya rute dan pusat-pusat perdagangan di Timur Tengah oleh orang-orang Islam.
2. Adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu dengan ditemukan peta dan kompas yang sangat penting bagi pelayaran.
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah dari daerah asal sehingga harganya lebih murah dan dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
4. Adanya keinginan untuk melanjutkan Perang Salib dan menyebarkan agama Nasrani ke daerah-daerah yang dikunjungi.
5. Adanya jiwa petualangan sehingga menggugah semangat untuk melakukan penjelajahan samudra.
a. Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia
Bangsa Portugis telah berhasil mencapai India (Kalikut) 1498. Bangsa Portugis berhasil mendirikan kantor dagangnya di Gowa pada tahun1509. Pada tahun 1511 di bawah pimpinan  d'Albuquerque Portugis berhasil menguasai Malaka. Dari Malaka di bawah pimpinan d'Abreu tahun 1512 Portugis telah sampai di Maluku dan diterima baik oleh Sultan Ternate yang pada waktu itu sedang bermusuhan dengan Tidore. Portugis berhasil mendirikan benteng dan mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.
Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, Portugis juga aktif menyebarkan agama Kristen (Katolik) dengan tokohnya yang terkenal ialah Franciscus Xaverius. Portugis ini tidak hanya memusatkan kegiatannya di Indonesia bagian timur (Maluku ), tetapi juga ke Indonesia bagian barat (Pajajaran). Pada tahun 1522 Portugis datang ke Pajajaran di bawah pimpinan Henry Leme dan disambut baik oleh Pajajaran dengan maksud agar Portugis mau membantu dalam menghadapi ekspansi Demak.
Terjadilah Perjanjian Sunda Kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran, yang isinya sebagai berikut:
1) Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
2) Pajajaran akan menerima barang-barang yang dibutuhkan dari Portugis termasuk senjata.
3) Portugis akan memperoleh lada dari Pajajaran menurut kebutuhannya.
Awal tahun 1527 Portugis datang lagi ke Pajajaran untuk merealisasi Perjanjian Sunda Kelapa, namun disambut dengan pertempuran oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah. Pertempuran berakhir dan namanya diganti menjadi Jayakarta, artinya pekerjaan yang jaya (menang).
b. Masuknya Bangsa Spanyol ke Indonesia
Kedatangan bangsa Portugis sampai di Indonesia (Maluku) segera diikuti oleh bangsa Spanyol. Ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magelhaen, pada tanggal 7 April 1521 telah sampai di Pulau Cebu. Rombongan Magelhaen diterima baik oleh Raja Cebu sebab pada waktu itu Cebu sedang bermusuhan dengan Mactan. Persekutuan dengan Cebu ini harus dibayar mahal Spanyol sebab dalam peperangan ini Magelhaen terbunuh.
Dengan meninggalnya Magelhaen, ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Sebastian del Cano melanjutkan usahanya untuk menemukan daerah asal rempah-rempah. Dengan melewati Kepulauan Cagayan dan Mindanao akhirnya sampai di Maluku (1521). Kedatangan bangsa Spanyol ini diterima baik oleh Sultan Tidore yang saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis.
Sebaliknya, kedatangan Spanyol di Maluku bagi Portugis merupakan pelanggaran atas "hak monopoli". Oleh karena itu, timbullah persaingan antara Portugis dan Spanyol.
Sebelum terjadi perang besar, akhirnya diadakan Perjanjian Saragosa (22 April 1529) yang isinya sebagai berikut.
1) Spanyol harus meninggalkan Maluku, dan memusatkan kegiatannya di Filipina.
2) Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku.
c. Masuknya Bangsa Belanda ke Indonesia
Sebelum datang ke Indonesia, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu Belanda masih berada di bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1585, Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai oleh Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Spanyol mendorong bangsa Belanda untuk mengadakan
penjelajahan samudra.
Pada bulan April 1595, Belanda memulai pelayaran menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis  de Houtman. Dalam pelayarannya menuju ke timur, Belanda menempuh rute Pantai Barat Afrika–Tanjung Harapan–Samudra Hindia–Selat Sunda–Banten.
Pada saat itu Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad (1580–1605) Kedatangan rombongan Cornelis de Houtman, pada mulanya diterima baik oleh masyarakat Banten dan juga diizinkan untuk berdagang di Banten.
Namun, karenanya sikap yang kurang baik sehingga orang Belanda kemudian diusir dari Banten. Selanjutnya, orang-orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur akhirnya sampai di Bali.
Rombongan kedua dari Negeri Belanda di bawah pimpinan Jacob van Neck dan Van Waerwyck, dengan delapan buah kapalnya tiba di Banten pada bulan November 1598. Pada saat itu hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk sehingga kedatangan bangsa Belanda diterima dengan baik. Sikap Belanda sendiri juga sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para penguasa Banten sehingga tiga buah kapal mereka penuh dengan muatan rempah-rempah (lada) dan dikirim ke Negeri Belanda, sedangkan lima buah kapalnya yang lain menuju ke Maluku.
Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan rempah-rempah, mendorong orang-orang Belanda yang lain untuk datang ke Indonesia. Akibatnya terjadi persaingan di antara pedagang-pedagang Belanda sendiri.
Setiap kongsi bersaing secara ketat. Di samping itu, mereka juga harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris. Melihat gelagat yang demikian, Olden Barneveld menyarankan untuk membentuk perserikatan dagang yang mengurusi perdagangan di Hindia Timur. Pada tahun 1602 secara resmi terbentuklah Vereenigde Oost Indiesche Compagnie (VOC) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur. VOC membuka kantor dagangnya yang pertama di di Banten (1602) di kepalai oleh Francois Wittert. Tujuan dibentuknya VOC adalah sebagai berikut:
1. Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pedagang Belanda.
2. Untuk memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan, baik dengan sesama bangsa Eropa, maupun dengan bangsa-bangsa Asia.
3. Untuk mendapatkan monopoli perdagangan, baik impor maupun ekspor.

Sumber: http://sejarah11-jt.blogspot.com/2012/10/masuknya-bangsa-asing-ke-indonesia.html

Mengamati Benda-Benda Langit

Kenampakan Bulan di Malam Hari



Lokasi: Pondok Pesantren Luhur Sabilussalam, Jl.WR.Supratman No.81, Gg.Bacang, RT:02/RW:09, Kampung Utan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15412
Waktu: Selasa, 11 Maret 2014, 20.59 WIB

Deskripsi:
Kenampakan bulan pada foto tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya utuh. Namun karena pemotretan dilakukan dengan menggunakan kamera Hand Phone 2 mega pixel, sehingga gambar bulan tersebut terlihat seperti utuh. Foto tersebut merupakan hasil perbesaran dari foto aslinya. Namun saja tidak semua benda langit dapat terfoto, seperti bintang. Karena ukuran bintang yang terlalu kecil jika dilihat dari bumi, maka bentuk bintang tidak dapat terlihat.
Pengambilan gambar dilakukan pada saat langit cerah, tidak mendung, dan tidak berawan. Ketika itu sebenarnya hanya ada beberapa bintang yang nampak pada malam tersebut, namun jumlahnya pun tidak terlalu banyak, mungkin bisa dihitung jari (khususnya di daerah Kampung Utan).
Pancaran cahaya yang dipancarkan oleh bulan pada malam itu sebenarnya lumayan terang. Namun karena kenampakannya tidak penuh, sehingga kurang begitu mengesankan. Kondisi bulan (yang gelap/tidak bercahaya) hanyalah seperempat dari bentuk bulan yang memancarkan cahaya. Seperti inilah penggambarannya:

Bulan Cembung

Lantas mengapa bentuk bulan selalu berubah-ubah pada periode/kurun waktu tertentu? Dari pertanyaan tersebut akhirnya saya mencoba mencari tahu dari sebuah sumber yang ada di internet. Dan inilah jawaban yang saya peroleh:



Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi, dan merupakan satelit alami terbesar ke-5 di Tata Surya. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya sendiri dan cahaya Bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari. Jarak rata-rata Bumi-Bulan dari pusat ke pusat adalah 384.403 km, sekitar 30 kali diameter Bumi. Diameter Bulan adalah 3.474 km, sedikit lebih kecil dari seperempat diameter Bumi. Ini berarti volume Bulan hanya sekitar 2 persen volume Bumi dan tarikan gravitasi di permukaannya sekitar 17 persen daripada tarikan gravitasi Bumi. Bulan beredar mengelilingi Bumi sekali setiap 27,3 hari (periode orbit), dan variasi periodik dalam sistem Bumi-Bulan-Matahari bertanggungjawab atas terjadinya fase-fase Bulan yang berulang setiap 29,5 hari (periode sinodik).
Fase bulan adalah bentuk bulan yang selalu berubah-ubah jika dilihat dari bumi. Fase bulan itu tergantung pada kedudukan bulan terhadap matahari dilihat dari bumi. Fase bulan disebut juga aspek bulan.
Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing fase bulan:
1. Fase 1 – New Moon (Bulan baru): Sisi bulan yang menghadap bumi tidak menerima cahaya dari matahari, maka, bulan tidak terlihat.
2. Fase 2 – Waxing Crescent (Sabit Muda): Selama fase ini, kurang dari setengah bulan yang menyala dan sebagai fase berlangsung, bagian yang menyala secara bertahap akan lebih besar.
3. Fase 3 – Third Quarter (Kuartal III): Bulan mencapai tahap ini ketika setengah dari itu terlihat.
4. Fase 4 – Waxing Gibbous: Awal fase ini ditandai saat bulan adalah setengah ukuran. Sebagai fase berlangsung, bagian yang daftar akan lebih besar.
5. Fase 5 – Full Moon (Bulam purnama): Sisi bulan yang menghadap bumi cahaya dari matahari benar-benar, maka seluruh bulan terlihat. Hal ini terjadi ketika bulan berada di sisi berlawanan dari Bumi.
6. Fase 6 – Waning Gibbous: Selama fase ini, bagian dari bulan yang terlihat dari Bumi secara bertahap menjadi lebih kecil.
7. Fase 7 – First Quarter (Kuartal I): Bulan mencapai tahap ini ketika setengah dari itu terlihat.
8. Fase 8 – Waning Crescent (Sabit tua): Hanya sebagian kecil dari bulan terlihat dalam fase yang secara bertahap menjadi lebih kecil.
Kesimpulan:
Bulan sebenarnya tidak mengalami perubahan bentuk. Bentuk bulan tetap bulat. Bulan tampak berubah bentuk karena bulan mengelilingi bumi. Akibatnya, bagian bulan yang memperoleh cahaya matahari menjadi berubah-ubah pula. Karena kita hanya dapat melihat bagian bulan yang terkena cahaya matahari, maka bentuk bulan terlihat selalu berubah-ubah.

Source: http://ddayipdokumen.blogspot.com/2013/01/macam-macam-fase-bulan.html

PERKEMBANGAN TEORI MAKROEKONOMI MENURUT TEORI KEYNES (Kritik Keynes terhadap Pandangan Klasik)

I.   PENDAHULUAN
Pada tahun 1929-1932 terjadi kemunduran ekonomi di seluruh dunia, yang bermula dari kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat. Periode ini dinamakan The Great Depression.  Pada puncak kemerosotan ekonomi itu, seperempat dari tenaga kerja di Amerika Serikat menganggur dan pendapatan nasionalnya mengalami kemerosotan yang sangat tajam.
Kemunduran ekonomi tersebut menimbulkan kesadaran bagi para ahli ekonomi bahwa mekanisme pasar tidak dapat secara otomatis menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang teguh dan tingkat penggunaan tenaga kerja penuh.  Dan teory-teory ekonomi sebelumnya juga tidak dapat menerangkan mengapa peristiwa kemunduran ekonomi yang serius tersebut dapat terjadi.  Ketidakmampuan tersebut mendorong seorang ahli ekonomi Inggris yang terkemuka pada masa tersebut, yaitu John Maynard Keynes, mengemukakan pandangannya dan menulis buku yang pada akhirnya menjadi landasan kepada teory makroekonomi  modern.
Untuk mengetahui bagaimana  kebijakan-kebijakan serta teori yang diungkapkan oleh Keynes dalam masalah pertumbuhan ekonomi maka saya sebagai penulis akan memaparkannya dalam makalah berikut ini.

II.   ISI
A.   Pandangan Utama Teori Keynes
Secara garis besarnya pandangan dalam buku Keynes tersebut dapat dibedakan kepada dua aspek.  Di satu pihak buku tersebut mengemukakan beberapa kritik ke atas pandangan ahli-ahli ekonomi klasik mengenai faktor-faktor yang menentukan tingkat kegiatan sesuatu perekonomian.  Kritik-kritik tersebut menunjukan kelemahan-kelemahan dari pandangan yang menjadi landasan kepada keyakinan ahli-ahli ekonomi klasik bahwa penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh selalu dicapai.
Di pihak lain buku tersebut menerangkan pula faktor utama yang akan menentukan prestasi kegiatan ekonomi suatu negara.  Keynes berpendapat pengeluaran agregat, yaitu perbelanjaan masyarakat ke atas barang dan jasa, adalah faktor utama yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai suatu negara.  Seterusnya Keynes berpendapat bahwa dalam system pasar bebas penggunaan tenaga kerja penuh tidak selalau tercipta dan diperlukan usaha dan kebijakan pemerintah untuk menciptakan tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh.

B.  Kritik Keynes Terhadap Pandangan Klasik
Menyadari kelemahan analisis yang dilakukan oleh ahli-ahli ekonomi klasik merupakan dorongan penting kepada Keynes untuk melakukan suatu pendekatan baru di dalam menelaah
· Pola kegiatan ekonomi masyarakat
· Bagaimana tingkat kegiatan ekonomi dan tingkat produksi nasional yang dicapai ditentukan.
Di dalam usahanya ini antara lain Keynes menunjukan beberapa kelemahan dari pandangan ahli ekonomi klasik.  Keynes tidak menyetujui pandangan yang paling pokok dalam teori klasik, yaitu bahwa penggunaan tenaga kerja penuh akan selalu tercipta dalam perekonomian.  Keynes berpendapat penggunaan tenaga kerja penuh adalah keadaan yang jarang terjadi, dan hal itu disebabkan karena kekurangan permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian. Perbedaaan pendapat yang sangat bertentangan di antara Keynes dengan para ahli ekonomi klasik ini bersumber dari perbedaan pendapat mereka dalam dua persoalan berikut:
1. Faktor-faktor yang menentukan tingkat tabungan, tingkat investasi dan suku bunga dalam perekonomian.
2. Sifat-sifat perkaitan di antara tingkat upah dengan penggunaan tenaga kerja oleh para pengusaha.
Uraian dalam bagian ini akan menerangkan empat isu berikut:
a. Pandangan Keynes mengenai tingkat tabungan dan investasi
Keynes tidak sependapat dengan pandangan ahli-ahli ekonomi klasik yang menyatakan bahwa tingkat tabungan maupun tingkat investasi sepenuhnya ditentukan oleh suku bunga dan perubahan-perubahan dalam suku bunga akan menyebabkan tabungan yang tercipta pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh akan selalu sama dengan investasi yang dilakukan oleh para pengusaha.
Penentu Tabungan
Menurut Keynes, besarnya tabungan yang dilakukan oleh rumah tangga bukan tergantung kepada tinggi rendahnya suku bunga.  Ia terutama tergantung  kepada besar kecilnya tingkat pendapatan rumah tangga itu.  Makin besar jumlah pendapatannya yang diterima oleh suatu rumah tangga, makin besar pula jumlah tabungan yang akan dilakukan olehnya.  Apabila jumlah pendapatan rumah tangga itu tidak mengalami kenaikan atau penurunan, perubahan yang cukup besar dalam suku bunga tidak akan menimbulkan pengaruh yang berarti keatas jumlah tabungan yang akan dilakukan oleh rumah tangga itu.  Ini berarti, menurut pendapat Keynes, jumlah pendapatan yang diterima rumah tangga-dan bukan suku bunga yang menjadi penentu utama dari jumlah tabungan yang akan dilakukan oleh rumah tangga.
Penentu Investasi
Disamping itu Keynes tidak yakin bahwa jumlah investasi yang dilakukan para pengusaha sepenuhnya ditentukan oleh suku bunga.  Keynes tetap mengakui bahwa suku bunga memegang peranan yang cukup menentukan di dalam pertimbangan para pengusaha dalam melakukan investasi.  Tetapi disamping faktor itu terdapat beberapa faktor penting lainnya, seperti keadaan ekonomi pada masa kini, ramalan perkembangannya di masa depan dan luasnya perkembangan teknologi yang berlaku.  Apabila tingkat kegiatan ekonomi pada masa kini adalah menggalakkan dan dimasa depan diramalkan perekonomian akan tumbuh dengan cepat, maka walaupun suku bunga adalah tinggi, para pengusaha akan melakukan banyak investasi.  Sebaliknya, walupun suku bunga rendah, investasi tidak akan banyak dilakukan apabila barang-barang modal yang terdapat dalam perekonomian digunakan pada tingkat yang jauh lebih rendah dari kemampuannya yang maksimal.
b. Perbandingan pandangan klasik dan Keynes mengenai faktor utama yang menentukan tabungan.
Pandangan Klasik
Menurut ahli-ahli ekonomi klasik, jumlah tabungan ditentukan oleh suku bunga.  Oleh karena perekonomian selalu mencapai penggunaan tenaga kerja penuh, jumlah tabungan yang diwujudkan adalah jumlah tabungan pada ketika perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh.
c. Pandangan Keynes mengenai penentu-penentu suku bunga
Keynes juga mengkritik pandangan klasik mengenai penentuan suku bunga.  Dalam teori keuangan modern yang dikembangkan oleh Keynes, suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang.  Bank sentral dan system perbankan adalah institusi yang akan menentukan besarnya penawaran uang pada suatu waktu tertentu.  Sedangkan permintaan uang ditentukan oleh keinginan masyrakat untuk memegang uang.
Menurut Keynes keseimbangan di antara permintaan dan penawaran uang, yaitu MD=MS, akan menentukan suku bunga.  Dengan demikian, apabila mulanya dimisalkan penawaran uang adalah MS0 maka keseimbangan MD=MS akan dicapai pada titik E dan suku bunga adalah r.  kenaikan penawaran uang dari MS0menjadi MS1 akan memindahkan keseimbangan permintaan dan penawaran uang ke E1 dan menyebabkan suku bunga turun ke r1.
d. Pandangan Keynes mengenai penentu tingkat upah

C.  Penentu Kegiatan Ekonomi
1.  Peranan Permintaan Agregat
Analisis Keynes menunjukan tentang pentingnya peranan dari pengeluaran agregat ke atas jumlah barang dan jasa yang akan diproduksikan oleh sektor perusahaan di dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi.  Ini berarti analisis Keynes lebih banyak memperhatikan aspek permintaan, yaitu menganalisis mengenai peranan dari permintaan berbagai golongan masyarakat di dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang akan dicapai oleh suatu perekonomian.  Pada hakikatnya analisis itu berpendapat bahwa tingkat kegiatan ekonomi negara ditentukan oleh besarnya permintaan efektif, yaitu permintaaan yang disertai oleh kemampuan untuk membayar barang dan jasa yang diminta tersebut, yang wujud dalam perekonomian.  Bertambah besar permintaan efektif yang wujud dalam perekonomian, bertambah besar pula tingkat produksi yang akan dicapai oleh sektor perusahaan.  Keadaan ini dengan sendirinya akan menyebabkan pertambahan dalam tingkat kegiatan ekonomi, pertambahan penggunaan tenaga kerja dan pertambahaan penggunaan faktor-faktor produksi.
Analisis Keynes merupakan suatu analisis jangka pendek.  Ini berarti analisnya memisalkan bahwa jumlah maupun kemampuan dari faktor-faktor produksi tidak mengalami pertambahan.  Oleh sebab itu apabila kegiatan ekonomi bertambah tinggi dan lebih banyak faktor-faktor produksi digunakan, pengangguran tenaga kerja dan faktor-faktor produksi lainnya akan berkurang.  Dengan demikian tingkat pengguna tenaga kerja dalam perekonomian tergantung kepada sampai dimana besarnya permintaan efektif yang tercipta dalam perekonomian.  Makin besar permintaan efektif, makin kecil jurang diantara tingkat kegiatan ekonomi yang tercapai dengan tingkat kegiatan ekonomi pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh.  Sebagai akibatnya tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah.

2.  Penentu-Penentu Perbelanjaan Agregat
Dalam analisisnya Keynes membagi permintaan agregat kepada dua jenis pengeluaran: pengeluaran konsumsi oleh rumah tangga dan penanaman modal oleh para pengusaha.  Dalam analisis makroekonomi yang wujud sekarang pengeluaran agregat dalam perekonomian meliputi pula pengeluaran pemerintah dan ekspor.  Dengan demikian pengeluaran agregat dapat dibedakan kepada empat komponen: konsumsi rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.
a) Konsumsi Rumah Tangga
Pengeluaran konsumsi yang dilakukan okeh seluruh rumah tangga dalam perekonomian tergantung kepada pendapatan yang diterima oleh mereka.  Makin besar pendapatan mereka makin besar pula pengeluaran konsumsi mereka.  Sifat penting lainnya dari konsumsi rumah tangga adalah ; hanya sebagian saja dari pendapatan yang mereka terima yang akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi.  Oleh Keynes perbandingan diantara pengeluaran konsumsi pada suatau tingkat pendapatan tertentu dengan pendapatan itu sendiri dinamakan kecondongan mengkonsumsi.  Apabila kecondongan mengkonsumsi adalah tinggi, bagian dari pendapatan yang digunakan untuk mengkonsumsi adalah tinggi.  Dengan sendirinya sebaliknya pula, apabila kecondongan mengkonsumsi adalah rendah, maka makin sedikit pendapatan masyarakat yang akan digunakan untuk mengkonsumsi.
Kecondongan mengkonsumsi yang rendah, menyebabkan jurang diantara produksi nasional pada penggunaan tenaga kerja penuh dengan pengeluaran agregat yang sebenarnya menjadi bertambah lebar.  Jurang yang lebih lebar ini menyulitkan suatu perekonomian untuk mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh.  Agar penggunaan tenaga kerja penuh dapat dicapai perlulah para pengusaha menaikkan jumlah investasi yang akan dilakukannya, yaitu mereka harus dapat menginvestasi sebanyak perbedaan diantara produksi nasional pada penggunaan tenaga kerja penuh dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga pada penggunaan tenaga kerja penuh.  Apabila investasi tidak dapat mencapai tingkat tersebut pengangguran akan berlaku.

b) Investasi (Penanaman Modal)
Penanaman modal oleh para pengusaha terutama ditentukan oleh dua faktor ; efesiensi marjinal modal dan suku bunga.  Efesiensi marjinal modal menggambarkan tingkat pengembalian modal yang akan diperoleh dari kegiatan-kegiatan investasi yang dilakukan dalam perekonomian.  Apakah seorang pengusaha akan menanam modal atau membatalkannya tergantung kepada sifat hubungan di antara efesiensi modal marjnal ( atau tingkat pendapatan minimal dari penanaman modal yang akan dilakukan) dengan suku bunga.  Sekiranya suku bunga lebih tinggi dari efesiensi marjinal dari investasi tersebut, maka pengusahaa itu akan membatalkan rencananya untuk menanam modal.  Seorang pengusaha baru akan menanam modal apabila hasil dari investasinya lebih tinggi dari suku bunga.  Maka, dalam suatu perekonomian, besarnya jumlah investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha tergantung kepada nilai penanaman modal yang tingkat pengembalian modalnya lebih besar dari suku bunga.
Keynes mempunyai pendapat yang sangat berbeda deengan ahli-ahli ekonomi klasik mengelai faktor-faktor yang menentukan suku bunga.  Pandangan Keynes mengenai penentuan suku bunga telah diterangkan dalam bagian yang membahas kritik Keynes terhadap pandangan ahli-ahli ekonomi klasik.

c) Pengeluaran Pemerintah
Pemerintah bukan saja berfungsi untuk mengatur kegiatan ekonomi tetapi juga dapat mempengaruhi tingkat pengeluaran agregat dalam perekonomian.  Di satu pihak kegiatan pemerintah melalui pemungutan pajak akan mengurangi perbelanjaan agregat.  Akan tetapi pajak tersebut akan dibelanjakan lagi oleh pemerintah dan langkah tersebut akan meningkatkan pengeluaran agregat.  Kerapkali pemerintah membelanjakan dana yang melebihi penerimaan pajak.  Langkah seperti ini akan meningkatkan keseluruhan pembelanjaan agregat.

d) Ekspor ke Pasaran Dunia
Ahli ekonomi telah menunjukkan berbagai kebaikan dari hubungan ekonomi dengan luar negeri, terutama kegiatan mengekspor dan mengimpor.  Ahli ekonomi klasik telah lama menunjukkan bagwa ekspor dapat memperluas pasar ( contoh ; sumbangan ekspor karet dan minyak mentah kepada ekonomi Indonesia ) dan memungkinkan negara yang mengekspor memperoleh dana untuk mengimpor barang lain, termasuk barang modal yang akan mengembangkan perekonomian tersebut lebih lanjut.
Perkembangan perdagangan dunia dalam dua tiga dekade belakangan ini menunjukkan pula bahwa perkembangan ekspor yang pesat telah dapat menciptakan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.  Perkembangan ekspor yang pesat tersebut menyebabkan pertambahan pesat dalam perbelanjaan agregat, yang pada akhirnya akan menimbulkan pertumbuhan pendapatan nasional ( dan pertumbuhan ekonomi ) yang pesat.




III.  KESIMPULAN
1. Keynes berpendapat pengeluaran agregat, yaitu perbelanjaan masyarakat ke atas barang dan jasa, adalah faktor utama yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai suatu negara.  Seterusnya Keynes berpendapat bahwa dalam system pasar bebas penggunaan tenaga kerja penuh tidak selalau tercipta dan diperlukan usaha dan kebijakan pemerintah untuk menciptakan tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh.
2. Perbedaaan pendapat yang sangat bertentangan di antara Keynes dengan para ahli ekonomi klasik ini bersumber dari perbedaan pendapat mereka dalam dua persoalan berikut:
· Faktor-faktor yang menentukan tingkat tabungan, tingkat investasi dan suku bunga dalam perekonomian.
· Sifat-sifat perkaitan di antara tingkat upah dengan penggunaan tenaga kerja oleh para pengusaha.
3. Pengeluaran agregat dapat dibedakan kepada empat komponen: konsumsi rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, Teori Pertumbuhan Ekonomi,  BPFE : Yogyakarta. 1981
Jhingan, M.L. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan,  Raja Grafindo Persada: Jakarta. 2004
Sukirno, Sadono, MakoekonomiTeori Pengantar, Raja Grafindo Persada : Jakarta. 2004